Connect with us

OPINI

Catatan dari Talkshow “Menuju Indonesia Baru”

Published

on

Talk Show Menuju Indonesia Baru digagas oleh Melati Putih Indonesia (MPI), tim relawan Prabowo Sandi merupakan forum edukatif publik.

GEDUNG SMESCO mendadak membiru pada hari Sabtu kemarin, dipenuhi audiens yang mengenakan baju biru langit. Dapur Sunda yang hanya berkapasitas 300 orang saja, dijejali sampai 400 orang audiens. Sebagian audiens rela berdiri dan duduk di lantai, dan bahkan yang tidak melakukan RSVP pun memaksa ingin menonton Talk Show yang menghadirkan tiga nara sumber hebat.

Talk Show Menuju Indonesia Baru digagas oleh Melati Putih Indonesia (MPI), tim relawan Prabowo Sandi merupakan forum edukatif publik, sangat berwawasan dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para audiensnya.

Senang sekali saya bisa memoderatori tiga tokoh Indonesia yang diidolakan masyarakat saat ini yaitu Dr. Rizal Ramli, pakar ekonomi sekaligus mantan pejabat publik di era SBY maupun Jkw, Dr. Haikal Hassan, CEO Anugrah Consulting, Speaker Exchange Indonesia tapi dikenal juga sebagai Ustad, dan yang terakhir Prof. Rocky Gerung, sebenarnya beliau enggan disebut profesor, tapi publik yang memberikan gelar itu kepadanya sebagai bentuk apresiasi atas pemikiran-pemikirannya yang hanya bisa dipahami oleh kaum cerdas dan terdidik.

Rizal Ramli bahkan sempat berceloteh pemikiran-pemikiran Rocky Gerung tidak mungkin akan dipahami oleh kaum cebong dan publik pun riuh tertawa.

Gagasan Menuju Indonesia Baru merupakan visi strategis yang dirancang oleh Paslon Prabowo Sandi yaitu terwujudnya bangsa dan negara Republik Indonesia yang adil dan makmur, bermartabat, relijius, berdaulat di bidang politik, ekonomi mandiri dan berkepribadian nasional yang kuat di bidang budaya serta menjamin kerukunan antar warga negara.

Pandangan tiga nara sumber sarat dengan pemikiran-pemikiran brilian, saya menggaris bawahi apa yang disampaikan oleh Rocky Gerung, untuk menuju Indonesia baru oposisi harus memiliki konsep strategis dan mengubah The Beginning of End (realisasi dari pemerintahan JKW-JK saat ini) menjadi ‘A New Beginning Different Concept Indonesia Baru’.

Pembicara kedua Ustad Haikal Hassan menegaskan bahwa yang hilang dari bangsa ini adalah akhlak, untuk menuju Indonesia baru, pemerintah harus mengembalikan akhlak bangsa ini menjadi bangsa yang jujur dan bermartabat. Tidak boleh ada lagi kebohongan, hoax harus dimusnahkan dan publik harus dicerdaskan dan memberantas kebodohan.

Ustad Haikal juga menegaskan dengan kuat bahwa pertarungan pilpres sebenarnya adalah bukan antar kandidat akan tetapi adalah pertarungan dengan KPU. Kalau ternyata KPU tidak berlaku adil maka Ustad Haikal berjanji akan mengerahkan seluruh alumni 212 untuk turun ke lapangan dan memonitor jalannya pencoblosan dan penghitungan suara. Sontak audiens bertepuk tangan dan meneriakkan takbir.

Sementara Rizal Ramli menegaskan bahwa harus ada perubahan dari Demokrasi Kriminal menjadi Demokrasi yang Accountable. Partai harus dibiayai oleh negara, dan tugas partai adalah mencari dan mendidik kader-kader terbaik di negri ini yang akan memimpin dan mengelola Indonesia. Dalam pandangannya Rizal juga menekankan pembangunan ekonomi difokuskan pada tiga aspek yaitu ekonomi makro, ekonomi korporasi dan ekonomi rakyat.

Masih banyak pandangan-pandangan lain yang sangat berwawasan, namun status ini akan menjadi terlalu panjang. Sepanjang acara berlangsung audiens begitu antusias mendengarkan dan ketiga nara sumber pun melemparkan joke-joke yang menyegarkan sehingga tawa audiens selalu bergemuruh sepanjang jalannya acara.

Tiga tokoh hebat ini memiliki magnet yang begitu kuat sehingga ketiganya kewalahan dikerumuni oleh audiens yang ingin berselfie ria. Dan nantikan acara-acara Melati Putih Indonesia lainnya yang tak kalah seru dan meriah. (*)

Oleh : Dian Anggraeni Umar, praktisi komunikasi.

OPINI

PILIHAN STRATEGI MORTIFICATION DALAM RESTORASI CITRA SUKMAWATI SOEKARNOPUTRI

Published

on

Diah Mutiara Sukmawati, adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo

Akhirnya Sukmawati Soekarnoputri mengambil pilihan strategi Mortification dalam upayanya untuk memperbaiki reputasi, dan pemulihan citra.

Strategi Mortification menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teori Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Seperti diketahui, Sukmawati awalnya berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati seperti dalam video yang viral.

Rupanya, ucapan Sukmawati itu dinilai sebagai sebuah penistaan terhadap agama. Pihak Koordinator Bela Islam (Korlabi) meminta polisi segera mengusut laporan tersebut karena dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Sukarno.

Laporan kepada polisi sangat serius, karena sudah dilaporkan resmi dan tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimum, tanggal 15 November 2019.

SUKMAWATI MINTA MAAF

Setelah memberikan berbagai klarifikasi via media Sukmawati Soekmawati memberikan tanggapannya dalam program Sapa Indonesia Malam Kompas TV, Senin (18/11/2019).

Dilansir tayangan YouTube Kompas TV, Sukmawati meminta maaf kepada Kadiv Humas Polri. Pasalnya, pidato yang diduga memuat penistaan agama adalah pidato Sukmawati saat menjadi pembicara dalam acara yang diadakan Humas Polri.

“Saya mohon maaf kepada Kadiv Humas Polri yang selalu menjadi penyelenggara grup diskusi kepada masyarakat,” ucap Sukmawati.

Ia meminta maaf lantaran atas ucapannya membuat gaduh masyarakat.

Tahun lalu Sukmawati juga pernah menggunaan strategi ini pada (4/4/2018), ketika puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi karena ada teks yang berbunyi, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu”

Sukmawati Soekarnoputri, ditemani Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta atau Bung Hatta akhirnya meminta maaf atas puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi dan menyatakan sama sekali tidak berniat untuk menghina umat Islam. Dan setelah itu semua kontroversinya selesai.

SUKMAWATI PASCA MINTA MAAF

Proses hukum terus berlanjut. Sumawati pun sudah menyerahkan urusan ini kepada penasehat hukum dan pihak yang berwajib.

Dalam pandangan saya, strategi restorasi citra Mortification ini pilihan yang terbaik. Baik salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji, karena seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Mengakui bersalah, dan meminta maaf dari orang-orang yang telah dirugikan atau tersinggung tentu baik. “Jika kita percaya permintaan maaf itu tulus, kita akan memaafkan suatu kesalahan” tulis Benoit.

Meskipun proses hukum berjalan terus, namun kegaduhan di masyarakat sudah berkurang jauh. Demikian juga di ruang media dan ruang publik.

Menurut saya Strategi Mortification ini terbukti sangat efektif sebagai upaya stategis untuk meredam krisis, memulihkan citra, atau reputation recovery, atau image restoration.

[Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo. Penulis adalah seorang mediapreneur dan praktisi komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory]

Continue Reading

OPINI

REPUTASI SUKMAWATI SOEKARNOPUTRI DAN IMAGE RESTORATION THEORY

Published

on

Diah Mutiara Sukmawati, adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BERANGKAT dari relung hati masuk ke dalam pikiran, kemudian diimplementasikan dalam perbuatan dan diucapkan dengan kata-kata yang didengarkan banyak orang. Itulah yang dinamakan komunikasi.

Komunikasi dari internal yang kita lakukan sendiri, bisa memberikan output yang benar, tapi bisa juga salah. Itulah yang disebut kesalahan komunikasi dari internal diri sendiri.

Meskipun salah, sepanjang konten yang dikomunikasikan tidak mengandung unsur yang sensitif dan tidak menyinggung perasaan pihak lain, tentu tidak masalah.

Kesalahan yang datangnya dari eksternal pun sulit . Jadi, apapun konten yang dikomunikasikan (entah itu benar atau merasa benar, apalagi salah) pasti akan dipersoalkan oleh pihak eksternal.

Komunikatornya pun bisa beragam, umumnya datang dari opinion leader dari pihak ketiga pihak yang kontra. Biasanya ini terkait dengan persoalan masalah persaingan, baik itu persaingan usaha, kontestasi politik, maupun persoalan hukum, dan urusan umat yang sensitif.

PIDATO SUKMAWATI

Adalah pidato Sukmawati Soekarnoputri dalam kegiatan yang bertema ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ pada Senin (11/11/2019) yang membuat kontroversi dan berbuah laporan polisi.

Awalnya Sukmawati berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati seperti dalam video yang viral.

Rupanya, ucapan Sukmawati itu dinilai sebuah penistaan terhadap agama. PihakKoordinator Bela Islam (Korlabi) meminta polisi segera mengusut laporan tersebut karena dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Sukarno.

Laporan kepada polisi sangat serius, karena sudah dilaporkan resmi dan tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 15 November 2019.

Tentu saja pidato Sukmawati itu kini menuai badai. Sejumlah tokoh nasional sudah meminta Sukmawati untuk mempertanggungjawabkan ucapannya. Apalagi tokoh-tokoh islam lengkap dengan atribut organisasi masanya juga mempersoalkan ucapan Sukmawati.

Saya tidak perlu nembahas kontroversi ini dari sisi berita karena diperkirakan masalah ini akan bergulir panjang ke depan, mengingat isu sensitif yang dilontarkan Sukmawati ini bukan yang pertama kali.

Menarik bagi saya adalah untuk memotret peristiwa ini dari kacamata komunikasi secara makro. Bagus juga menyimak dari sisi strategi public relations, manajemen reputasi, dan upaya-upaya pemulihan citra seperti apa yang dilakukan Sukmawati (dan timnya) ke depannya.

IMAGE RESTORATON THEORY

Prof. William Benoit yang membuat Image Restoration Theory atau teori pemulihan citra menyebutkan bahwa semua orang memiliki keinginan untuk namanya selalu baik, reputasinya harum, dan citranya bagus. Meskipun orang itu melakukan kesalahan yang membuatnya buruk citra.

Itulah sebabnya Benoit menganalisa berbagai cara dan kebiasaan personal atau korporasi dalam menghadapi krisis komunikasi, memburuknya reputasi, dan kerusakan citra dalam teori pemulihan citra.

Dalam pandangan saya, disadari atau tidak sebenarnya Sukmawati (dan timnya) juga sudah melakukan sebagian upaya reputation recovery sesuai prinsip-prinsip image restoration theory (yang memiliki 5 prinsip strategi, dengan beragam implementasi).

Misalnya, Strategi Denial. Strategi seperti ini seringkali kita lihat dan baca di berbagai kasus komunikasi, yaitu melakukan penyangkalan (simple denial). Tetapi selain menyangkal, ada juga mengalihkan kesalahan terhadap orang lain (shifting the blame).

Nah, dalam hal ini Sukmawati terlihat sudah menerapkan strategi ini, terekam dari statemennya di media yang menyebut video yang tersebar di media sosial telah diedit, bukan sepenuhnya seperti yang dia sampaikan. “Saya tidak membandingkan, dan tidak ada kata jasa,” ucap Sukmawati.

Juga Strategi Evading of Responsibility. Strategi ini dilakukan dengan cara pengurangan tanggungjawab atas tindakannya, dengan demikian maka konsekuensi tindakannya (kesalahan) tersebut juga berkurang.

Salah satu strategi evading of responsibility ini diimplementasikan dengan langkah good Intention (pengakuan bahwa semuanya berawal dari niat yang baik, sama sekali tidak ada maksud untuk membuat kesalahan)

Seperti diberitakan setelah viral, Sukmawati menegaskan tidak ada maksud untuk menghina Nabi Muhammad atau membandingkannya dengan Sang Proklamator. Tujuannya bertanya soal itu, ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak.

“Ya bertanya, saya ingin tahu jawabannya seperti apa, fakta sejarahnya, pada ngerti enggak sejarah Indonesia? Terus dijawab mahasiswa itu: Sukarno,” ujar Sukma, saat dihubungi media, Jumat, 15 November 2019.

Begitulah upaya Sukmawati yang kini sedang berjuang untuk melakukan restorasi citra dengan berbagai klarifikasi yang dilakukannya maupun yang dilakukan oleh tim hore dan opinion leadernya.

Sebenarnya dalam pandangan saya ada satu lagi strategi restorasi citra yang sangat penting yang bisa direkomendasikan yang kemungkinan bisa mengatasi masalah komunikasi ini, yaitu Strategi Mortification.

Strategi Mortifikation disebut Benoit paling akhir dalam Image Restoration Theory. Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teoi Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Sukmawati juga pernah menggunaan stategi ini pada (4/4/2018), ketika puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi karena ada teks yang berbunyi, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu”

Sukmawati Soekarnoputri, ditemani Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta atau Bung Hatta akhirnya meminta maaf atas puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi dan menyatakan sama sekali tidak berniat untuk menghina umat Islam. Dan setelah itu semua kontroversinya selesai.

Masalahnya, apakah Sukmawati juga akan mengambil ulang strategi Mortification ini untuk mengulang kisah suksesnya di masa lalu? Kita belum tahu. Apakah strategi Mortification ini juga efektif jila dilakukan lebih dari kali? Kita juga tidak tahu.

Namun secara pribadi saya berpandangan meskipun salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji, karena seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Selain itu, meminta maaf juga dapat menciptakan ketenangan jiwa, meminimalisir konflik, mengurangi krisis komunikasi, melatih kesabaran, dan menjadi bukti keseriusan dalam bertaubat.

Jika memang demikian adanya, mestinya Strategi Mortifikation ini akan sangat efektif sebagai upaya stategis untuk reputation recovery, image restoration, atau pemulihkan citra. Semoga.

[Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo. Penulis adalah seorang mediapreneur dan praktisi komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory]

Tulisan ini sudah dimuat di media Tribunnews.com

Continue Reading

OPINI

APAPUN ALASANNYA, KRISIS CITRA HARUS SEGERA DIPULIHKAN

Published

on

Jangan biarkan konten negatif mencemari halaman pertama hasil pencarian dengan kata kunci nama Anda, perusahaan Anda, ataupun produk Anda.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

Semua orang pada umumnya memiliki keinginan yang sama. Ingin pencitraannya baik, ingin reputasinya baik, dan ingin namanya baik di mata publik.

Semua orang ingin begitu. Terlepas apakah itu orang baik-baik ataupun tidak.

Namun demikian, kita menyaksikan banyak hal buruk yang menimpa orang baik-baik sepanjang waktu. Soal ini, Anda bisa memantaunya dari berbagai macam saluran media.

Banyak tokoh dan perusahaannya yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun nama baiknya dan reputasi bisnisnya, agar semakin terpercaya dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Namun entah mengapa secara tiba-tiba, dan tanpa disangka-sangka, ternyata citra, reputasi, dan nama baiknya hancur.

Mengapa? Penyebabnya sederhana tapi tidak bisa dianggap sepele, yaitu : munculnyanya konten negatif dalam situs mesin pencarian kata kunci.

Tapi jangan menganggap enteng, karena kesalahan sederhana ini bisa menyebabkan longsoran komentar negatif dari pengikut yang marah ataupun yang dimobilisasi yang jika dibiarkan membahayakan eksistensi perusahaan/Anda.

Memang benar, munculnya konten negatif dalam situs mesin pencari itu bukan akibat kesalahan Anda.

Bisa jadi ada perusahaan pesaing Anda yang membuat konten artikel negatif palsu yang disalurkan via media online dan menjadi berita buruk.

Bisa juga, ada satu pelanggan yang marah, kemudian komplain dengan menulis ulasan dengan muatan konten negatif. 

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Nah, apa pun alasannya, Anda harus segera mengambil tindakan cepat untuk memperbaiki reputasi Anda. Harus ada upaya restorasi citra (image testoration) yang tepat untuk memulihkan nama baik perusahaan/Anda.

Jangan biarkan konten negatif mencemari halaman pertama hasil pencarian dengan kata kunci nama Anda, perusahaan Anda, ataupun produk Anda.

Jika Anda mengalami masalah seperti ini setidaknya ada empat tahapan restorasi citra, seperti yang direkomendasikan oleh konsultan PR terkemuka dari Amerika Serikat yang mengelola manajemen reputasi online “XReputation”, antara lain :

Pertama, cari dulu, dan identifikasikan akar penyebab masalah muncunya konten negatif di media.

Terkadang hasil pencarian negatif adalah puncak gunung es. Cobalah untuk menemukan dan mengatasi masalah yang mendasarinya. Biar bisa menuntaskan langsung dari sumbernya.

Kedua, langsung perbaiki saja konten negatif di sumbernya. Artikel sering disindikasikan, jadi Anda harus menemukan dan memperbaiki masalah pada konten asli.

Anda bisa memberikan klarifikasi dan hak jawab kepada sumber konten untuk bisa melakukan perbaikan konten berita.

Ketiga, hapus hasil pencarian negatif dari Google. Jika Anda berhasil memperbaiki masalah atau menghapus konten, maka Anda dapat mengirim permintaan penghapusan konten negatif yang tidak sesuai fakta atau hoaks ke Google.

Keempat, harus memperkuat kehadiran online Anda dengan membanjiri konten-konten positif.

Publikasikan konten positif sebanyak-banyaknya tentang korporasi/Anda untuk membangun dan menjaga firewall di sekitar reputasi Anda.

Kelima, tekan konten negatif yang tidak dapat Anda hapus ke halaman belakang Google. Duplikasikan da optimalkan profil sosial Anda, kembangkan blog, dan luncurkan situs web pribadi untuk menghilangkan hasil negatif yang berpotensi muncul di halaman pertama.

Keenam, dapatkan ulasan positif, endorse yang baik dari mitra usaha maupun testimoni yang membangun dari klien, customer ataupun pelanggan.

DIGITAL PUBLIC RELATIONS

Begitulah dunia Public Relations pun berkembang pesat sesuai dengan tuntutan jaman. Krisis komunikasi, kerusakan citra atau hancurnya nama reputasi dan nama baik seseorang tidak cukup disolusikan dengan strategi PR konvensional.

Diperlukan infrastuktur yang tepat untuk menghadapi krisis komunikasi di era siber digital, diperlukan konsultan Digital Public Relations yang bisa melakukan restorasi citra secara efektif.

Konsultan Manajemen Reputasi Online atau Digital PR akan menggunakan berbagai strategi holistik yang menggabungkan SEO, hubungan masyarakat, dan manajemen krisis untuk mengubur konten negatif dalam hasil situs mesin pencarian kata kunci. (*)

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory.

Continue Reading

Trending

Penerbit :
PT Media Indonesia Raya

Management :
Karjodihardjo Media

Penanggung Jawab :
Budi Purnomo Karjodihardjo

Jaringan Media :
Indonesia Raya Media Center (IRMC)

Alamat Redaksi :
Plaza Bukit Nirwana No. 1, Bogor Nirwana Residence (BNR) Jl. Dreded, Pahlawan - Bogor Selatan 16132

WA Center :
0878-15557788, 0819-15557788

Media ini merupakan anggota jaringan media siber Indonesia Raya Media Center (IRMC) yang dikelola secara profesional oleh sejumlah wartawan senior yang memiliki cita-cita besar untuk mendukung Indonesia Raya yang lebih baik, melalui jalur media dan komunikasi.
Media siber yang termasuk dalam jaringan media siber Indonesia Raya Media Center (IRMC), antara lain :
Indonesiaraya.co.id (dari Acehraya.com s/d Papuaraya.com)
Adilmakmur.co.id
Pandubangsa.com
Liputan2.com
Mediaemakemak.com
Gerindranews.com


Indonesia Raya Media Center (IRMC) siap bekerja sama dan bermitra dengan strategic partner yang ingin mengembangkan jaringan media siber Indonesia Raya Media Center (IRMC) baik sebagai investor atau sebagai partner. Hubungi : hellobudipurnomo@gmail.com

Semoga Indonesia Raya menjadi negeri yang adil dan makmur.